Oleh: M.NUR HAZZAQ RAFLI, Mahasiswa Fisip-UMMU
Pendidikan hari ini kembali terjebak dalam jebakan lama: pendidikan gaya bank, istilah yang pernah digunakan Paulo Freire untuk menggambarkan sistem di mana mahasiswa dianggap seperti celengan kosong yang harus diisi dengan hafalan, bukan dibebaskan melalui kesadaran kritis.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di banyak kampus, termasuk di Muhammadiyah Maluku Utara ,pendidikan semakin menyerupai pabrik ijazah bukan ruang dialektika. Dosen menjadi teller yang menyalurkan pengetahuan, mahasiswa menjadi nasabah yang pasif, dan kampus menjadi lembaga perbankan intelektual yang memperdagangkan “nilai” dan “gelar” sebagai komoditas.
Inilah wajah kapitalisme akademik: di mana pengetahuan dijual, bukan dibagikan; di mana mahasiswa didorong mengejar sertifikat, bukan kesadaran. Kampus kehilangan jiwa sebagai ruang pembebasan. Ia berubah menjadi mesin produksi tenaga kerja yang patuh bukan manusia yang berpikir bebas.
Namun di tengah apatisme dungu yang membekukan nurani intelektual, masih ada percikan perlawanan: buku dan berpikir kritis. kawan-kawan yang menolak tunduk, buku bukan sekadar teks, tetapi senjata kesadaran. Membaca adalah tindakan politis; berpikir adalah bentuk perlawanan terhadap sistem yang ingin menidurkan kita dalam kenyamanan palsu.
Mahasiswa yang berpikir kritis bukan ancaman bagi bangsa, tetapi ancaman bagi kekuasaan yang takut terhadap kebenaran. Maka jangan heran jika kampus berusaha membungkam suara-suara kritis dengan jargon “disiplin akademik” atau “etika institusi.” Padahal, justru di sanalah kolonialisme pengetahuan bersembunyi menjinakkan pikiran agar tidak menggugat struktur ketidakadilan.
Kini saatnya kita bertanya: Apakah kampus masih tempat mencari kebenaran, atau hanya kantor distribusi gelar? Apakah dosen masih guru, atau sudah berubah menjadi manajer nilai? Apakah mahasiswa masih manusia berpikir, atau sekadar data di sistem administrasi?
Kritik ini bukan kebencian, tetapi panggilan untuk menghidupkan kembali kesadaran kritis. Sebab pendidikan sejati bukan tentang menghafal dunia, melainkan mengubahnya.













Komentar