Penulis: Muhajrin Umasangadji (Aji)
Di awal tahun, kita bertemu di sebuah alun-alun sekolah menengah pertama. Malam itu, pelantikan organisasi sedang berlangsung. Orang-orang datang dengan antusias meramaikan kegiatan tersebut.
Sementara kita dua orang asing yang belum saling mengenal berdiri di antara keramaian, tanpa tahu bahwa takdir sedang diam-diam menulis nama kita pada halaman yang sama, kita sempat foto barengan teman-teman mu mengabadikan momen tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Setelah acara selesai, setelah para tamu pergi dan ruangan mulai sepi, aku menghampiri mu meminta nomor ponsel. Disaat itu juga aku terpikat pada senyuman mu yang manis bak madu gunung, dan wajah mu yang polos bagaikan bayi.
Menjelang beberapa minggu kedepan kita berdua menjalani hubungan. Naasnya, itu adalah hubungan kedua mu dengan ku, sebelumnya kau juga menjalani hubungan dengan orang lain dan hubungan itu masih tetap berlanjut.
Asmara yang ku sangka hanya kau dan aku, eh ternyata aku hanyalah pemeran pengganti dalam drama yang bahkan tidak pernah kutahu sedang dimainkan. Betapa menyedihkannya menjadi seseorang yang datang membawa hati, lalu mengetahui bahwa dirinya hanya digunakan untuk menutup lubang yang ditinggalkan orang lain.
Hubungan yang robek itu aku coba menjahit, meskipun aku tahun benang-benangnya akan kembali putus. Tetapi tekat ku tak pernah putar, dengan sejumlah luka yang masih basa, aku mendorong hubungan ada bisa kembali ke arah dimana kita berdua inginkan secara bersama-sama.
Aku mulai memahami bahwa manusia sering kali jatuh bukan karena lubang yang dalam, melainkan karena terlalu percaya bahwa tanah di bawah kakinya masih ada. Begitulah aku terhadapmu.
Pada suatu hari, Aku menemukan percakapan kalian di handphone mu. Percakapan itu kembali merobek benang yang barusan aku jahit. Kadang-kadang kebenaran tidak membunuh kita karena ia tajam, tetapi karena kita terlalu lama hidup di dalam kebohongan.
“Andai kata kalau cinta itu mainan, maka aku objek yang kau mainkan”
Lagi, hal yang sama terjadi dan kali ini sudah keterlaluan, kamu dengan enaknya memeluk mantan diatas sepeda motor sambil tertawa, sementar aku tersingkir di tepi jalan yang rusak. Kalbu ku saat itu terasa ditikam tombak.
Padahal, luka ku belum sepenuhnya kering dan aku juga sudah membayang-bayangkan masa depan cerah ketika kau hadir sebagian sosok pengganti ibu ku, namun impian ku itu musna dengan tindakan mu yang tidak adil dalam hubungan.
“Puncak dari mencintai adalah melihat dia dengan orang yang dicintai”
Mengutip apa yang ditulis dalam novel novel Sense and Sensibility, 1811 “Kamu harus belajar melepaskan sedikit dari perasaanmu saat ini, atau kamu akan terus disiksa oleh ingatan masa lalu.” (Novel Sense and Sensibility, 1811). Memang benar kadang kita terlalu mengharapkan sesuatu akan indah diujung cerita, tapi kita tidak tau kedepannya akan seperti apa? Kita jadi pangeran atau kah jadi seseorang yang kalah dalam pertempuran.
Kita harus belajar melupakan dan melepaskan meskipun sakit, perih, bahkan pedis dihati. Akan tetapi itu lebih baik dibandingkan menjadi seorang badut penghibur.
Dia tidak benar-benar mencintai, dia tahu kamu tidak bisa tanpanya, sehingga ia melakukan sesuatu semaunya. Terkadang lebih kejam yaitu menjadikan kamu hanya seorang pemeran pengganti di acara yang disutradarai oleh dia.
Memang benar apa yang disampaikan oleh Mario Quintana bahwa: “Jangan buang waktumu mengejar kupu-kupu. Rawatlah kebunmu, maka kupu-kupu akan datang kepadamu.” (Mário Quintana Borboletas 1976)
Ia juga menambahkan “Dan jika kupu-kupu itu tetap tidak datang, setidaknya kamu sudah memiliki kebun yang indah.”
Jangan kita terlalu asik mengejar satu perempuan, namun perbaikan lah kepribadian, ekonomi, dan diri agar seribu perempuan mendekati, jika memang mereka tidak mendekati setidaknya kita telah merubah jadi diri kita sendiri.
Dan satu hal yang harus ditanamkan di dalam jiwa bahwa: Sesungguhnya takdir Tuhan lebih indah dari yang kita bayangkan













Komentar